""

10 Juli, 2010

Sejarah Geisha Jepang .

Geisha (芸者 “seniman”) dalam bahasa jepang adalah seniman atau penghibur tradisional (entertainer) . Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak.

Sejarah geisha dimulai dari awal pemerintahan Tokugawa, di mana Jepang memasuki masa damai dan tidak begitu disibukkan lagi dengan masalah-masalah perang. Seorang calon geisha harus menjalani pelatihan seni yang berat selagi usia dini. Berlatih alat musik petik shamizen yang membuat calon geisha harus merendam jarinya di air es. Berlatih alat musik lainnya juga seperti tetabuhan kecil hingga taiko. Berlatih seni tari yang menjadi kunci kesuksesan seorang geisha, karena geisha papan atas umumnya adalah penari, tari Topeng Noh yang sering dimainkan oleh geisha dihadirkan bagi masyarakat kelas atas berbeda segmennya dengan pertunjukkan Kabuki yang lebih disukai rakyat jelata.

53030451KK001_Geisha

Geisha juga harus berlatih seni upacara minum teh, yang pada masa medieval dianggap sama pentingnya dengan seni perang. Dan berbagai latihan berat lain yang harus dijalani. Dan latihan itu masih terus dijalani setiap geisha hingga akhir karirnya.

Seorang calon geisha sedari awal menginjakkan kakinya ke rumah barunya , sudah memiliki hutang awal sebesar biaya yang dikeluarkan pemilik Okiya untuk membelinya. Sungguh Ironis. Hutang itu terus bertambah, Karena biaya pendidikan geisha, biaya perawatan kecantikan, biaya dokter yang ditalangi oleh Okiya, nyatanya dibebankan balik sebagai hutang geisha. Geisha dengan level standar akan terus terikat hingga akhir hayatnya, berbeda dengan geisha sukses yang dapat menebus kembali kebebasannya sebelum mencapai usia 20 tahunan.

Syarat menjadi geisha sukses umumnya memiliki kakak angkat yang merupakan geisha senior sukses pula , sehingga dapat mengatrol popularitas si geisha magang. Sementara geisha senior yang sukses juga tidak mau sembarangan menerima adik angkat, karena menyangkut nama baik pula. Tetapi memiliki adik angkat yang sukses akan berarti keberuntungan pula bagi yang dirinya, seniornya dan okiya-nya, karena mereka sekian persen pendapatan si geisha muda tersebut.

Selain itu geisha muda juga harus melelang keperawanan kepada penawar tertinggi, pendapatan dari lelang yang sukses itu dapat menebus sebagian hutang geisha muda tersebut. Setelah itu mereka harus mencari danna(“suami”) sekaya mungkin, agar dapat membiayai biaya hidup geisha yang tinggi, dan juga membayari sebagian hutang-hutang geisha tersebut terhadap majikan mereka. Geisha yang sukses dalam suatu okiya akan diadopsi oleh nyonya mereka, dan menggunakan nama “keluarga” dari nyonya tersebut dan mewarisi segala kekayaan seisi rumah tersebut. Lalu meneruskan tradisi geisha.

Makan Ikan Lele ? Jadi haramkah ?

Bicara soal haram-halal memang harus hati-hati. Apalagi di lingkungan masyarakat yang sensitif; bisa-bisa justru saya terkena fatwa haram. Tapi bicara soal fikih, kita harus nurut, meski (bisa dipastikan) terdapat perbedaan pendapat. Menurut fikih Ahlussunah, ikan lele pada asalnya adalah halal. Tapi terkadang masyarakat kita memelihara lele di empang-empang dan diberi makan kotoran.

Jika kondisinya seperti itu, maka ikan lele menjadi sama seperti binatang jallalah, yaitu binatang yang memakan makanan kotor dan najis sehingga hukum memakannya adalah haram. Agar menjadi halal kembali, lele diharuskan untuk dikarantina alias dipisahkan dari tempat yang kotor dan makanannya pun harus yang bersih.

Blog LPPOM-MUI Kaltim menuliskan pendapat Ibnu Umar yang mengatakan sekaitan binatang jallalah tadi bahwa unta harus dikarantina selama 40 hari, kambing selama 7 hari, dan ayam selama 3 hari. Mungkin karena di daerah Timur Tengah tidak ada lele, maka sulit ditemukan berapa lama waktu karantina lele. Mazhab Syafii mengatakan tidak ada waktu tertentu. Situs kajianislam.net mengatakan selama 3 hari untuk karantina lele.

Sedangkan mazhab Syiah Ahlulbait sejak awal memang menyatakan haramnya memakan lele dan ikan lainnya yang tidak memiliki sisik. Disebutkan dalam beberapa literatur Ahlulbait bahwasanya Nabi Muhammad saw. bersabda, “…bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian makan dari ikan kecuali yang memiliki kulit dan padanya sisik…” (Wasâil 24/107) Begitu juga Imam Ja’far Ash-Shadiq as.: “Makanlah dari ikan yang memiliki sisik dan janganlah engkau makan yang tidak bersisik darinya.” (Wasâil, 16/33)

Sedangkan info mengenai bahaya makan ikan lele, saya peroleh dengan sanad seperti ini: dari Ali Akbar dari Mukhtar Laksana dari DakiUnta.com, menulis:

Buat teman-teman yang suka makan pecel lele atau belut goreng hati-hati ya. Ini ada informasi dari pak dokter…

Saya ingin membahas kenapa orang mudah sekali terkena penyakit tiroid yang bengkak (dan) infeksi. Beberapa bulan ini saya sering kedatangan pasien-pasien yang terkena penyakit thyroid yang bengkak, dengan gejala:

  1. Leher bawah bengkak
  2. Disekitar leher ada yang seperti tumor
  3. Bola mata seperti mau keluar,
  4. Panas di sekitar leher.
  5. Sering batuk di tengah malam tanpa sebab

Setelah saya sering bertanya, ternyata semua pasien sering memakan lele dan belut.

Pada juragan lele di Jogja [Yogyakarta]; ayah, istri dan anak, semua timbul gejala-gejala seperti di atas. Saya tanyakan ke salah satu profesor dokter di Pluit. Ternyata belut/lele mengandung racun ringan, sehingga bila digoreng, maka minyak yang bersih pun akan hitam, dan dulu saya pun ingat jika makan tahu/tempe dari minyak hasil gorengan lele, maka tenggorokan gatal/panas. Tterkadang bikin batuk.

Nah karena dari ini semua saya hanya ingin menginformasikan bahwa makanan yang murah belum tentu sehat. Tolong sampaikan ke saudara-saudara yang suka makan lele/belut. Mungkin lebih baik dipertimbangkan. Mungkin perlu ada penelitian lebih lanjut.

Puji Tuhan, pasien-pasien dengan kelenjar thyroid bermasalah, semua sudah kembali normal. Terkadang bengkak sampai ke punggung seperti terjepit…

Terima kasih.

Uap Lem Aibon Bikin Halusinasi & Otot Pernafasan Keram

KEBIASAAN menghisap uap lem aibon bisa menyebabkan ke matian mendadak. Dr. Esti, kon selor Ya yasan ASA Bangsa menge mu kakan, ada zat halusinogen dalam kandungan lem aibon.

“Halusinogen bisa membuat seseorang yang menghisapnya berhalusinasi. Namun, bahaya nya, di saat seseorang menghisap uap lem aibon bisa menyebabkan ke matian,” kata dr Esti saat me­meriksa siswa-siswi Anak Seko lah Jalanan.

Kematian mendadak disebab kan spasme atau keram di otot per nafasan. Uapnya bersifat iri tan. Mengiriitasi mukosa saluran napas hingga melukai saluran per napasan sehingga terjadi ke ram di otot pernafasan.

“Setiap orang yang menghisap nya, kemungkinan bisa menga la mi kematian mendadak. Dan bila seseorang yang menghisapnya, tidak mengalami kematian, jang ka lamanya akan merusak otak,” ujar Dr Esti. Zat halusinogen, me nurut dia, tidak saja terdapat di lem aibon, tapi juga terdapat pada jenis spi dol tertentu. Misal nya, ben sin atau solar.

“Ini juga bisa meyebabkan sa kaw. Pernah terjadi pada anak ber usia enam tahun yang memili ki kebiasaan menghisap uap solar. Anak ini, kalau belum meng hisap bau solar, dia akan menangis terus. Dan ini, sudah sakaw,” tegasnya.

Itulah yang terungkap dalam penyuluhan narkoba yang dila kukan Yayasan Asa Bangsa di Sekolah Anak Jalanan, Penjari ngan, Jakarta Utara (10/9).

Hari masih pagi di Sekolah Anak Jalanan (SAJA) yang ter letak di bawah jalan layang tol Tan jung Priok menuju Slipi, Penjaringan, Jakarta Utara. Saat itu, Rabu, 13 September 2008. Sua sana yang biasanya serius dan penuh pelajaran sekolah, tiba-tiba saja terisi oleh tatap mata bingung.

Di antaranya, Devi Andre, pe la jar TK A, berusia empat tahun berbibir sumbing. Keheranannya pun sirna, tatkala Ibu Tri Sutrisno pe merhati kegiatan Yayasan ASA Bang sa dan ibu Sulfiah Ambardi, Ke tua Yayasan ASA Bangsa me nyen tuhnya dengan penuh kasih sayang.

“Anak-anak ini adalah asset ne gara, namun kehidupannya mem prihatinkan,” kata ibu Tri Sutrisno, di acara road show ulang tahun Yayasan Asa Bangsa yang ke-9.

Di hari ulang tahunnya ini, ASA Bangsa, memberikan pe nyuluhan mengenai bahaya nar koba. “Narkoba, tidak saja meng hampiri usia remaja, tapi juga su dah masuk ke dunia anak-anak. Mu dah-mudahan penyuluhan ini dapat mengurangi pemakaian narkoba,” kata Ibu Tri.

Sementara itu, ibu Sulfiah Am bardi, ketua Yayasan Asa Bangsa mengatakan, kalau kegiatan pe nyuluhan narkoba pada anak-anak jalanan merupakan prioritas yayasan yang dipimpinnya. “Kegiatan ini merupakan ru ti nitas kami sejak berdiri di ta hun 1999. Kami, tidak saja memberi kan penyuluhan bahaya narkoba, tapi juga memeriksakan keseha tan mereka secara gratis, ” ungkap nya.

Reinhard Hutabarat, program me Officer, SAJA mengatakan, memang banyak anak-anak yang terkena narkoba di awal berdirinya SAJA. Umumnya menghisap lem aibon. “Awal berdirinya se ko lah anak jalanan ada yang pa kai. kini tidak dengan sering nya diadakan penyuluhan ba haya narkoba,” ujarnya.

Lensa Kotak Bisa Bikin Buta


Canary Islands -Hati-hatilah bagi pengguna lensa kontak. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Journal of Medical Microbiology edisi November, lensa kontak sering terkontaminasi Acanthamoeba yang tidak dapat dihilangkan dengan perawatan lensa kontak biasa.

Penggunaan lensa kontak dapat meningkatkan resiko infeksi protozoa pathogenic dan dapat menyebabkan kebutaan.

Acanthamoeba merupakan tipe protozoa yang banyak ditemukan di tanah dan juga sering ditemui di air bersih. Spesies ini kebanyakan makan bakteri yang bisa menyebabkan infeksi pada manusia.

Salah satu penyakit yang disebabkan Acanthamoeba disebut amoebic keratitis, yang merupakan infeksi pada mata. Sekitar 85% dari seluruh kasus amoebic keratitis terkena pada orang yang menggunakan lensa kontak.

Infeksi ini sangat menyakitkan dan dapat menyebabkan kebutaan. Karena amuba dapat ditemui di kolam renang berklorin serta penampungan air rumah tangga maka resiko terinfeksi sangat besar. Orang yang berenang dengan menggunakan lensa kontak juga meningkatkan resiko terkena infeksi.

"Prevelensi dari infeksi ini terus meningkat selama 12 tahun terakhir di seluruh dunia, terutama disebabkan lebih banyak orang yang menggunakan lensa kontak,” kata Dr Basilio Valladares dari University Institute of Tropical Diseases and Public Health Canary Islands, University of La Laguna.

"Saat orang membasuh lensa kontak mereka di air, hal itu akan menjadikan terkontaminasi amuba yang memakan bakteri. Selanjutnya bakteri akan berpindah ke lensa kontak dan mampu hidup diantara mata dan lensa kontak. Hal ini mengawatirkan, karena lensa kontak komersial tidak dapat mengeliminir amuba ini, katanya.

Ilmuwan telah meneliti 153 kasus lensa kontak. Sebanyak 90 diantaranya tidak mengalami gejala infeksi. Sebanyak 65,9 % lensanya terkontaminasi dengan pathogenic Acanthamoeba dan 30% amuba ditemukan sangat patogen.

Untuk saat ini, kami coba mengembangkan solusi cara perawatan yang dapat membunuh spesies pathogenic Acanthamoeba," kata Dr Valladares.[O1]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...